WARTABUMI.COM, INTERNASIONAL – Gelombang unjuk rasa besar-besaran kembali mengguncang Republik Islam Iran pada awal tahun 2026. Demonstrasi yang bermula sejak Desember 2025 ini kini telah berkembang menjadi kerusuhan berdarah yang disebut-sebut sebagai tantangan paling serius bagi rezim Ayatullah Ali Khamenei dalam satu dekade terakhir. Situasi di lapangan dilaporkan jauh lebih mematikan dibandingkan protes 2022 yang dipicu kematian Mahsa Amini.
Berdasarkan laporan terbaru yang dihimpun pada pertengahan Januari 2026, eskalasi kekerasan terus meningkat drastis. Pemicu utama kemarahan publik kali ini bukan lagi sekadar isu sosial atau aturan berpakaian, melainkan runtuhnya fondasi ekonomi negara yang berdampak langsung pada kelangsungan hidup rakyat Iran.
Angka Kematian Melonjak Drastis
Data yang dirilis oleh kantor berita aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, melukiskan gambaran mengerikan mengenai situasi terkini di Teheran dan berbagai provinsi lainnya. Per tanggal 11 Januari 2026, jumlah korban tewas tercatat mencapai 544 jiwa.
Lonjakan angka kematian ini terjadi sangat cepat. Hanya sehari sebelumnya, pada Sabtu (10/1/2026), angka kematian resmi yang terverifikasi berada di angka 116 jiwa. Namun, dalam kurun waktu 24 jam, laporan korban jiwa meningkat tajam seiring dengan tindakan represif aparat keamanan yang menggunakan peluru tajam dan peluru karet dari jarak dekat untuk memukul mundur massa.
Selain angka kematian yang telah terkonfirmasi tersebut, organisasi HAM juga mencatat adanya 579 laporan kematian tambahan yang saat ini masih dalam proses verifikasi. Jika angka-angka ini terkonfirmasi, total korban jiwa diprediksi dapat menembus lebih dari 1.000 orang dalam waktu singkat, menjadikan insiden ini sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terburuk dalam sejarah modern Iran.
Perbandingan dengan Tragedi Mahsa Amini 2022
Banyak pengamat membandingkan gejolak 2026 ini dengan protes nasional tahun 2022. Kala itu, kematian Mahsa Amini, perempuan muda berusia 22 tahun yang tewas dalam tahanan polisi moral karena masalah hijab, memicu kemarahan global.
Namun, terdapat perbedaan fundamental dalam skala dan pemicu kedua peristiwa tersebut:
- Jumlah Korban: Protes Mahsa Amini pada 2022, meskipun berlangsung berbulan-bulan, mencatatkan jumlah korban tewas di bawah 500 orang. Sebaliknya, demo 2026 telah melampaui angka tersebut hanya dalam hitungan minggu.
- Akar Masalah: Mona Yacoubian, Direktur dan Penasihat Senior Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menganalisis bahwa rezim Iran kini menghadapi jalan buntu. Pada 2022, pemerintah masih bisa meredam amarah publik dengan melonggarkan aturan sosial atau memberikan janji reformasi terkait polisi moral. Namun, protes 2026 berakar pada kemerosotan ekonomi dan anjloknya nilai mata uang Rial.
“Aksi protes terbaru ini berakar pada kesulitan ekonomi di Iran. Tidak ada yang bisa dilakukan rezim Iran untuk mengembalikan perekonomian bangsa yang lesu ke jalur yang benar dalam waktu singkat,” ungkap Yacoubian. Ia menambahkan bahwa gelombang protes kali ini bukan hanya soal perut, tetapi juga tentang martabat rakyat yang tergerus oleh kemiskinan sistemik.
Penangkapan Massal dan Pemadaman Komunikasi
Represi negara tidak hanya terlihat dari jumlah korban tewas. Laporan Sky News dan berbagai sumber independen menyebutkan bahwa lebih dari 10.681 orang telah ditangkap dan dipindahkan ke berbagai penjara di seluruh provinsi di Iran. Penjara-penjara dilaporkan penuh sesak seiring dengan operasi penangkapan massal yang terus berlanjut.
Pemandangan memilukan juga terlihat di pusat medis forensik di Teheran. Stasiun televisi pemerintah sempat menayangkan gambar puluhan kantong jenazah yang menumpuk di kantor forensik, sementara kerumunan keluarga berkumpul di luar gedung medis forensik Kahrizak dengan harapan cemas untuk mengidentifikasi anggota keluarga mereka yang hilang atau tewas.
Untuk menutupi skala kekerasan yang terjadi, pemerintah Iran menerapkan strategi pemadaman komunikasi (blackout). Akses internet dan komunikasi seluler diputus di 31 provinsi, membuat pemantauan situasi secara real-time menjadi sangat sulit bagi dunia internasional.
Respons Presiden Masoud Pezeshkian: Tudingan Asing
Di tengah krisis yang memuncak, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memberikan pernyataan resmi melalui wawancara televisi. Seperti pola yang sering digunakan dalam menghadapi disidensi, Pezeshkian menuding adanya keterlibatan “kekuatan asing” di balik kerusuhan ini.
Presiden menyebut para demonstran yang terlibat bentrokan sebagai oknum yang memiliki agenda menghancurkan struktur sosial Iran. Ia menuduh kelompok tersebut melakukan pembunuhan terhadap warga sipil, pembakaran tempat ibadah, dan perusakan fasilitas umum.
“Pemerintah tetap terbuka untuk mendengarkan suara rakyat,” ujar Pezeshkian, sembari menegaskan bahwa pemerintah telah membentuk kelompok kerja khusus yang dipimpin oleh Gubernur Bank Sentral untuk menangani persoalan ekonomi. Namun, ia juga memberikan peringatan keras agar masyarakat menjauh dari apa yang ia sebut sebagai “perusuh dan teroris”.
Krisis ini menjadi ujian terberat bagi pemerintahan Pezeshkian dan kepemimpinan tertinggi Iran. Dengan ekonomi yang sulit dipulihkan akibat sanksi dan mismanajemen, serta kemarahan publik yang telah melampaui batas ketakutan, Iran kini berada di titik didih yang belum pernah terjadi sebelumnya.
URL Video Referensi: https://www.youtube.com/watch?v=RKH3NF1g43M


